Salam Pramuka !!!
Selamat Datang di Blog kami kakak" sekalian...
UKM PRAMUKA UM METRO
Racana Ki Bagus Hadikusuma Dan Cut Nyak Dien
Gugus Depan 04.403 - 04.404
Pangkalan Universitas Muhammadiyah Metro
I. SEJARAH UKM PRAMUKA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
a. Ki Bagus Hadikusuma
Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Ki Bagus
Hadikusumo (lahir di Jogjakarta, 24
November 1890 – meninggal di Dajakrta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun)
adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R.
Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir 1308 H (24 November 1890). Ki Bagus adalah putra
ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan
(pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.
Beliau mendapat pendidikan sekolah
rakyat (kini SD) dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo
Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari
seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa
Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.
Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi
Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM
Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia
sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain
itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club
(KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan
(PSHW).
Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh
Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika
KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat),
Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini
dijabat hingga tahun 1953.
Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, beliau termasuk dalam
anggota BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan
memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan.
Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah
UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.
Ki Bagus aktif membuat karya tulis,
antara lain Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang
lain yaitu Risalah Katresnan Djati
(1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941),
dan Poestaka Iman (1954).
Setelah meninggal, Pemerintah Republik
Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan
Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.
b. Cut Nyak Dien
Cut Nyak
Dhien, Lahir-1848 Lampadang, Kesultanan Aceh dan Meninggal-6 November 1908
Sumedang, Hindia Belanda. Beliau dikenal karena, Pahlawan Nasional Indonesia.
Beragama Islam, Pasangan Ibrahim Lamnga, Teuku Umar Anak Cut Gambang
Cut Nyak Dhien
(ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 – Sumedang, Jawa
Barat, 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang) adalah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa
Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya
Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum
pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan
bersumpah hendak menghancurkan Belanda.
Teuku Umar, salah satu tokoh
yang melawan Belanda, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien
menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan
perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada tahun 1880. Mereka
dikaruniai anak yang diberi nama Cut Gambang.[1] Setelah pernikahannya dengan
Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Namun,
Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899,
sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya.
Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakit encok dan rabun,
sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena
iba.[2][3] Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat
dan penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan
rakyat Aceh. Ia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum
tertangkap. Akibatnya, Dhien dibuang ke Sumedang. Tjoet Nyak Dhien meninggal
pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh.
c. Logo Racana Ki Bagus Hadikusuma Dan Cut Nyak Dien